Tahun ini sampai di ujungnya dengan cara yang tenang. Sedikit berbeda, meski tidak hadir dengan peristiwa besar atau perubahan yang mencolok. Lebaran tidak pulang, langkah kembali ke gunung, dan waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk menulis membuat hari-hari berjalan dengan ritme yang terasa lain dari biasanya. Selebihnya, tahun ini tetap berjalan sebagaimana mestinya. Hari-hari lewat, satu per satu, tanpa banyak yang benar-benar ingin saya beri judul.
Lebaran tahun ini kami tidak pulang ke Pekanbaru dan Bangkinang. Kami tinggal di Jakarta, lalu pergi ke Malang. Bukan sebagai pengganti dan bukan juga pelarian. Lebih seperti berjalan saja, mengikuti ritme hidup yang sedang kami jalani sekarang. Ada nostalgia yang lewat, tapi tidak semua perlu didatangi. Beberapa cukup ditemani dari jauh.
Pulang justru terjadi di bulan November. Satu minggu di Pekanbaru untuk menghadiri pernikahan sepupu. Waktunya singkat. Acaranya berjalan sebagaimana mestinya. Saya bertemu banyak wajah yang familiar, di tempat yang tidak benar-benar berubah. Tapi saya datang dengan posisi yang berbeda. Tidak sepenuhnya sebagai anak yang pulang, juga bukan tamu. Hanya singgah, sambil membawa hidup yang sekarang.
Di bulan Juli, anak saya mulai sekolah. Usianya tiga tahun tiga bulan. Keputusan ini tidak dibungkus pertimbangan besar. Kami hanya ingin dia punya ruang sendiri. Bertemu teman. Belajar bersosialisasi. Pagi-pagi sekarang rumah sedikit lebih ramai. Ada tas kecil, sepatu yang sering tertukar, dan cerita-cerita pendek sepulang sekolah yang tidak selalu runtut. Dari situ saya mulai terbiasa dengan satu hal. Bahwa menemani tidak berarti selalu berada paling dekat.
Setelah vakum sepanjang 2024, tahun ini saya kembali naik gunung.
Pendakian ke Gunung Slamet di bulan Mei terasa seperti membuka pintu yang lama tertutup, berjalan naik di bawah kabut yang bergantian dengan batu, langkah yang semakin berat sejak awal, dan napas yang terus menyesuaikan diri dengan tanah yang tidak pernah benar-benar datar. Jalurnya panjang, menuntut kesabaran, dari hutan yang lembap, tanah berbatu, sampai punggungan yang membuat setiap langkah terasa seperti dialog antara tubuh dan batasnya sendiri. Tidak banyak yang saya kejar selain membiasakan diri berjalan jauh lagi, menerima ritme yang menurun dan menanjak tanpa banyak perlawanan, dan pulang ketika kaki sudah tahu apa artinya melangkah lama tanpa harus buru-buru sampai.
Setelah itu Merbabu. Jalurnya terasa lebih ramah di awal, tapi tetap menyimpan lelahnya sendiri. Langkah berjalan cukup ringan sampai akhirnya medan berubah pelan-pelan. Di punggungan Thekelan, napas mulai cepat habis dan tubuh perlahan jujur soal batasnya. Angin datang silih berganti, membuat langkah terasa lebih pelan dari rencana. Di titik itu saya sadar, jalur yang bersahabat di awal tidak pernah menjanjikan perjalanan yang sepenuhnya mudah. Merbabu mengajarkan satu hal sederhana. Berjalan jauh bukan soal seberapa cepat sampai, tapi tentang bagaimana tubuh belajar menyesuaikan diri tanpa perlu dipaksa.
Lalu Pangrango. Berangkat ketika pagi masih panjang, berjalan terus hingga malam menghampiri, dan turun ketika gelap sudah kembali jadi bagian dari perjalanan. Pendakian tektok yang panjang, sunyi, dan melelahkan, melewati rimba basah, tanah licin, dan hutan lumut yang dingin. Tidak ada pemandangan besar yang menunggu di puncak, hanya kabut dan rasa cukup karena bisa sampai dan kembali. Dua puluh jam berjalan memberi satu pelajaran sederhana: tidak semua perjalanan harus memberi apa-apa selain pengalaman berjalan itu sendiri, dan pulang dengan selamat.
Dan di bulan Desember, beberapa hari sebelum tahun ini benar-benar selesai, saya naik Gunung Prau. Pendakian yang datang tanpa banyak rencana, lebih sebagai cara menutup tahun dengan berjalan. Jalurnya pendek, tapi cuaca tidak memberi kemudahan. Kabut tebal, hujan, dan dingin mengiringi. Matahari hanya sempat muncul sebentar, lalu kembali ditutup kabut. Pendakian yang singkat, tenang, dan tidak banyak memberi apa-apa, selain pengalaman berjalan dan pulang dengan selamat.
Di setiap gunung itu, ada rasa yang sama. Bukan tentang puncak, tapi tentang cara berjalan, cara berhenti, dan bagaimana tubuh belajar menyesuaikan diri lagi.
"Kuat Sampai Puncak, Pulang Dengan Selamat"
Di sela semua itu, saya menulis. Lebih sering dari sebelumnya. Tahun ini empat buku saya tulis. Empat buku yang tidak pernah benar-benar direncanakan sebagai seri, tapi entah kenapa saling menyambung satu sama lain. Isinya bukan tentang tahun ini, melainkan tentang tahun-tahun yang jauh sebelumnya. Tentang luka yang tidak selesai saat itu, tentang perjalanan yang tidak selalu berarti sampai, tentang mimpi yang terus berjalan meski arahnya berubah, dan tentang catatan-catatan tenang yang tidak sedang ingin menjelaskan apa pun. Menulis jadi cara untuk merapikan ingatan. Bukan untuk membuka bab baru, tapi untuk membereskan yang lama.
Di waktu yang sama, saya juga menulis series. Hal-hal yang pernah dijalani, lalu kembali ditulis. Tahun ini blog jadi sangat aktif, total sudah 34 tulisan yang saya posting.
"Menulis jadi cara untuk merapikan ingatan dan beberapa cerita memang hanya perlu ditulis sampai selesai, bukan diteruskan"
Selebihnya, tahun ini berjalan sebagaimana seharusnya. Ritme pekerjaan yang masih dapat dimanajemen dengan baik. Rutinitas tidak banyak berubah. Ada hari-hari yang terasa panjang, ada juga minggu-minggu yang lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan khusus. Dan rasanya tidak apa-apa. Tidak semua fase hidup perlu terlihat sibuk agar terasa berarti.
Kalau harus disimpulkan, 2025 berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang benar-benar perlu dirayakan, juga tidak ada yang perlu disesali.
“Saya tidak menutup apa pun, hanya melanjutkan.”
Kalau ada yang ingin saya jaga di tahun depan, mungkin hanya ritmenya. Tetap berjalan tanpa tergesa. Tetap menulis tanpa perlu alasan khusus. Naik gunung ketika tubuh dan waktu mengizinkan, tanpa harus mengubahnya jadi daftar pencapaian.
Saya ingin memberi ruang yang sama seperti tahun ini. Ruang untuk pulang dengan cara yang berbeda. Ruang untuk menemani anak tumbuh tanpa merasa harus selalu mengarahkan. Ruang untuk berhenti sejenak ketika lelah, tanpa merasa tertinggal.
2026 tidak perlu jadi tahun perubahan besar. Cukup jadi tahun yang dijalani dengan sadar. Dengan langkah yang masih bisa saya rasakan. Dengan kepala yang tidak terlalu penuh. Dan dengan keberanian untuk melanjutkan, tanpa harus selalu tahu ke mana ujungnya.
Aspi Yuwanda
Jakarta, Akhir Tahun 2025


